Selasa, 12 November 2013

~ Jual Tas Cantik ~






Foto atas : tas berbahan viroyeq
Foto bawah : tas berbahan sofa clarisa vintage


@Rp 70.000,00 
BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM


Pemesanan dan informasi lebih lanjut via :
1. Email : hannakristinaz@gmail.com
2. HP : 085720181972
3. Pin BB : 32356E06

Minggu, 10 November 2013

Joko Widodo




 
Joko Widodo lahir di Solo, 21 Juni 1961. Adalah anak pertama dari empat bersaudara yang lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sujiatmi.

Pendidikan dari SD sampai SMA dihabiskan di kota Solo. Kemudian melanjutkan pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga lulus pada tahun 1985. Setelah lulus kuliah, ia merantau ke Aceh dan bekerja di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) selama 2 tahun. Namun kemudian kembali ke Solo, kota kelahirannya dan memilih bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di bidang perkayuan. Setelah cukup pengalaman, pada tahun 1998 ia memutuskan menjadi pengusaha di bidang mebel. Ia memulai usaha dari minus, bukan dari nol. Pelan-pelan merintisnya, paling tidak produksi yang telah dihasilkan dapat diekspor. Sampai akhirnya, usahanya maju. Mampu mengekspor mebel ke beberapa negara Eropa.

Suatu kali seorang pembelinya di Prancis mengaku kebingungan mengenali nama Joko yang tidak hanya seorang. Untuk memudahkan mengenalnya, si pembeli itu memanggilnya Jokowi. Inilah asal mula muncul penamaan Jokowi yang populer pada sekarang ini daripada nama resminya, Joko Widodo.

Setelah tiga tahun merintis usaha di bidang mebel, barulah bisa ekspor. Ini merupakan sebuah lompatan besar yang tidak mudah. Pada saat kegiatan ekspor itu mulai bisa berkembang, tiba-tiba pada tahun 2005 didorong-dorong untuk mengikuti Pilkada Walikota Solo. Dengan terpaksa, ia ikut tanpa memasang target dan tanpa semangat. Tapi ternyata, ia terpilih menjadi Walikota Solo sungguhan. Ia menganggap ini seperti sebuah kecelakaan. Ia tak percaya semua itu bisa terjadi dan berpihak pada dirinya. Akan tetapi, ia menyadari bahwa ternyata ia tepat dibutuhkan. Jabatan itu tidak bisa diuber-uber, karena Yang Di Atas-lah yang menentukan. Semua orang memiliki waktunya sendiri.

Padahal pada mulanya ia tidak berniat mencalonkan diri menjadi walikota. Perhatiannya kala itu hanya tersita untuk urusan usaha mebel. Sampai suatu ketika, ia merasa prihatin atas perkembangan dan pembangunan kota kelahirannya yang dirasa berhenti di tempat. Ia melihat kotanya tidak semakin baik, melainkan semakin turun dan tidak baik. Hingga ia merasa tergelitik bahwa begitu sulitnyakah mengelola kota. Ia tidak terlalu menyeriusinya, karena merasa tidak terkenal. Tetapi betul-betul sudah terpilih menjadi orang nomor satu di jajaran pemerintahan kota Solo. Dengan demikian, ia segera mendiagnosa berbagai penyakit yang membonsai pertumbuhan kotanya.

Hasilnya, ketika di daerah lain para Pedagang Kaki Lima (PKL) sering dirazia, digusur, bahkan digebuki, di Solo mereka justru diberi tempat mulia. Kalau kondisi pasar tradisional pada 30 tahun sebelumnya dalam kondisi seakan dibiarkan merana, kini semuanya diurus habis-habisan. Masalah kesehatan bagi masyarakat miskin yang tidak memiliki jaminan sama sekali, sebelumnya hanya dapat anggaran 1,4 miliar rupiah, sekarang memperoleh anggaran hingga 20 miliar rupiah. Akibatnya, seluruh pembiayaan kesehatan bagi masayarakat tidak mampu, mulai dari cuci darah sampai kemoterapi, semuanya dijamin oleh pemerintahan kota (pemkot). Warga Solo yang sebelumnya mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) selama dua minggu, kini cukup satu jam saja. Masalah perizinan untuk memulai usaha yang sebelumnya memerlukan waktu 4 hingga 6 bulan, sekarang bisa kelar hanya dalam waktu enam hari saja.

Berbagai kemajuan itu membuat kota Solo kini kedatangan banyak tamu. Setiap hari setidaknya ada 4 hingga 6 bus tamu dari berbagai daerah lain yang datang untuk melihat penanganan pelayanan KTP secara langsung. Semua bisa terjadi perubahan atau lompatan besar karena adanya visi, gagasan, serta impian besar.

Padahal aslinya, ia tumbuh dari keluarga miskin yang tinggal di daerah bantaran kali yang kumuh. Membuatnya tumbuh menjadi seorang pemimpin yang peka terhadap penderitaan dan berbagai problematika masyarakat miskin. Terlebih ketika semangat itu berpadu dengan pengalamannya selama 23 tahun bergelut di bidang ekspor, maka lahir berbagai kebijakan populis yang tidak hanya membela dan melindungi kepentingan masyarakat bawah, tetapi juga berhasil menggeser paradigma jajaran pemerintahan kota yang dipimpinnya secara revolusioner.

Gebrakan demi gebrakan dan berbagai terobosan ia ciptakan. Mulai dari sering tidak mau mengambil gaji hingga enggan mengganti mobil dinasnya yang bekas dengan mobil baru. Semakin mengukuhkannya sebagai manusia langka yang tidak hanya dipuja oleh warganya, tetapi membuat warga bangsa mulai jatuh cinta kepadanya.

Motif di balik keengganannya mengambil gaji adalah masih banyak masyarakat yang kesulitan, terutama makan. Meski misalnya mampu ganti mobil setiap tahun, tetap belum pernah ganti mobil dinas. Untuk apa bekerja dengan mobil lama yang sebelas tahun ini bisa, harus diganti dengan mobil yang baru. Apakah dengan mobil yang baru kinerjanya menjadi lebih baik? Paling dengan mobil baru, akan terlihat lebih gagah sedikit. Tetapi ia memilih tidak suka gagah-gagahan.

Ia mengira bahwa masalah pertama adalah tidak adanya leadership (kepepimpinan). Dan yang kedua adalah masalah di sistem manajemennya. Karena ketika ia hidup di ekspor selama 23 tahun, ada tiga hal yang tidak boleh tidak dipenuhi. Yaitu, yang pertama masalah quality (kualitas). Kedua, masalah price (harga), artinya harus selalu efisien sehingga harga bisa kompetitif. Ketiga, on time delivery (ketepatan waktu pengiriman). Ketiga hal ini sangat berpengaruh dalam pengelolaan kepemerintahan dan pengelolaan sebuah kota, khususnya mempengaruhi kebijakan. Sistem recruitment politik kita belum mampu menghasilkan kader-kader yang mempunyai leadership yang baik merupakan pokok problem bangsa kita.

Kemudian pada saat memulai usaha, ia merasa teman-temannya sudah punya modal yang lebih besar. Mereka sudah menjadi luar biasa kaya, dua level di atas dirinya. Ia baru mau memulai. Tetapi ia melihat, dibanding yang lain ia harus memiliki kelebihan. Ia melihat mereka kalau berangkat kerja jam delapan pagi, pulang jam empat sore. Kala itu ia tidak punya uang dan modal. Jadi yang bisa ia lakukan adalah berangkat lebih awal dari mereka. Ia subuh berangkat. Jam setengah enam pagi sudah sampai di tempat kerja. Pulang jam dua belas malam. Kalau ia tidak punya uang dan modal, tetapi berangkatnya sama seperti teman-temannya itu, apa yang bisa ditonjolkan? Tidak ada jawabannya. Jadi kalau mau sukses, kelebihan yang ada diangkat dan ditonjolkan. Seperti itu. Memang capek. Dipikir waktu ia menjadi walikota juga sama capeknya. Kadang kerja sampai tengah malam, hingga pagi. Itu biasa. Dari pagi sampai pagi, itu biasa. Menunggu kontainer sampai jam tiga pagi, jam empat pagi tidur di pabrik.

Jadi kalau sekarang melihat dirinya jam tujuh pagi sudah sampai di kelurahan, jam setengah delapan pagi sudah sampai di kelurahan, dulu lebih dari itu. Sebenarnya maunya jam lima pagi, enam pagi sampai di kelurahan. Ia datang ke kecamatan-kecamatan empat sampai lima kali. Orang-orang menyebutnya sidak. Di pinggir kali ada yang berteriak, “Pak hajar, Pak, hajar.”. Yang dihajar itu apa. Masyarakat itu bilang, di sana pak, di kelurahan sana sama, pak. Ditangani, disidak saja. Ia mengatakan tidak sidak kok. Pagi-pagi dirinya ingin jalan. Hanya kebiasaan saja.

Kebiasaan bangun pagi itu terbentuk karena ia memiliki latar belakang sebagai pengusaha. Kebiasaan itu terbawa hingga ia menjadi birokrat, Walikota Solo, dan sekarang menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ia menyebutkan, banyak hal positif yang bisa diterapkan para birokrat (pegawai negeri sipil) dari sikap para pengusaha. Dan hal itulah yang dilakukannya.

Dengan pola seperti itulah, ia berhasil saat menjadi Walikota Solo. Dan tampaknya pola seperti itu pula yang akan diterapkannya saat kini menjadi Gubernur DKI Jakarta yang resmi terpilih pada tanggal 20 September 2012, yakni birokrasi yang bernuansa entrepreneur.  

Ia terbukti memiliki catatan baik di dunia. Mendapat penghargaan sebagai salah satu dari calon walikota terbaik di dunia. Merupakan modal berharga sekaligus tantangannya agar ia bisa berhasil menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Bahkan pada bulan September 2013, sempat memuat berita di surat kabar tertentu di luar negeri perihal proses pengelolaan pemerintahan kota hingga memuat foto diri di dalamnya.

Begitulah Joko Widodo. Yang senantiasa memberikan segenap kemampuan terbaiknya bagi kemajuan, perbaikan, dan kesejahteraan masyarakat. Berhasil mencapai tujuan yang telah ia tetapkan sebelumnya, yaitu menjadikan kota Solo sebagai “Kota Karnaval dan Kota Seni Pertunjukan”. Hingga ketika baru beberapa minggu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sudah menunjukkan sesuatu hal yang baru.

“Seorang pemimpin itu harus punya visi besar, target besar, dan mimpi yang besar, sehingga ia bisa membuat lompatan besar (Quantum Leaps). Baik untuk memimpin kota, organisasi lainnya, atau negara,” kata Joko Widodo. 


Referensi tulisan :
- Majalah Luar Biasa edisi Desember 2011
- Majalah Luar Biasa edisi Desember 2012
- www.google.com

Sumber gambar :
http://www.tempo.co/read/news/2012/11/28/231444652/Ini-Alasan-Jokowi-Tunda-Lagi-Proyek-MRT

Senin, 14 Oktober 2013

Mengasihi Sang Pemberi


Artikel saya dimuat di BERGEMA edisi Oktober 2013



“Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan, Allahmu.” (Ulangan 8:11a)


Kondisi badan Anda sehat. Anda dapat bergerak lincah ke sana kemari untuk melakukan berbagai aktivitas secara menyenangkan. Seolah tiada hambatan yang dijumpai. Khususnya pada akhirnya Anda dapat bekerja. Ketika sedang bekerja, Anda sempat menemui berbagai kesulitan. Tetapi beberapa menit kemudian, Anda malah mampu mengatasi kesulitan itu sendiri. Anda pun nyaris senang kegirangan dan tanpa basa-basi langsung melanjutkan aktivitas lainnya sembari tersenyum. Tetapi ada satu hal yang Anda lupa : membawa bekal berupa makanan dari rumah untuk dimakan di kantor tempat Anda bekerja pada jam istirahat. Ketika jam istirahat tiba, ada seorang rekan kerja Anda yang memberi Anda makanan berisi nasi putih dan sayur kembang tahu yang telah dikemas dengan kemasan yang baik. Anda berterimakasih kepadanya, dan tanpa basa-basi langsung mengonsumsinya dengan penuh semangat, karena Anda nyaris kelaparan mengingat belum sarapan pada pagi hari sebelum berangkat kerja. Waktu kerja kini telah usai, segera mengendarai mobil, dan tiba di rumah dengan selamat. Bahkan Anda mendapat penghasilan yang cukup besar dari tempat Anda bekerja selama ini, sehingga Anda bisa membeli barang-barang yang sangat Anda perlukan. Dan tidak jarang, Anda bisa membeli barang-barang yang cukup mahal harganya.

Kehidupan Anda nyaris berjalan mulus. Seolah hidup Anda dimudahkan oleh Tuhan. Semua terlihat baik dan sempurna, pikir Anda. Ya, pada akhirnya Anda lebih mencintai pemberian-Nya karena begitu nikmatnya pemeliharaan Allah. Jika Allah memperkenankan Anda menikmati kelimpahan berupa harta kekayaan, sehat jasmani, sehat rohani, dan lain-lain, ingatlah dari mana semuanya itu berasal. Sehingga baiklah bagi kita untuk senantiasa tidak melupakan Tuhan dan memuji Dia atas segala kebaikan-Nya yang tak terhingga, serta menyadari bahwa semuanya bukan karena kekuatan dan kemampuan kita. (Hanna Kristina/St. Theresia; Sumber inspirasi : “Santapan Rohani”, 19 Juli 2013)

Minggu, 22 September 2013

"Take on the World", 21 September 2013




Puji Tuhan, akhirnya saya bisa menonton konser secara langsung di kota tempat saya tinggal. Ya, di Bandung. Dan pertama kalinya! :D Padahal, banyak konser yang diadakan di Bandung pada sebelumnya dan tidak satu konser pun saya hadiri. :)

Berikut saya ulaskan gambaran konser yang diadakan pada hari kemarin sebagai oleh-oleh untuk kita semua. Selamat membaca dan menikmati! :)

“Take on the World”
Swara Moriska Home Concert 2013
Sabtu, 21 September 2013
Pukul 16.00 WIB – 20.00 WIB
Gedung Kesenian Sunan Ambu (Sekolah Tinggi Seni Indonesia)
Jalan Buah Batu Nomor 234
Bandung

Konser ini terbagi menjadi 2 sesi.

Susunan Acara :

Open Gate/Ticketing :
Kami diminta oleh petugas untuk menulis nama, alamat, dan tanda tangan di buku tamu.
Kemudian diberi tiket gratis di counter tempat konser berlangsung.
Kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan konser. Ber-AC.. :D
Lampu ruangan hitam kelam dan ada sinar-sinar kuning yang menyinari dari atas.
Kami bergegas mencari tempat duduk sembari film dokumenter Sekolah Musik Swara Moriska diputar. Ya, ada OHP di sebelah kanan barisan tempat duduk. Seperti biasa, ada musik-musik lembut mengiringi agar kami dan penonton lain yang masuk segera relaks.

Sebelumnya ada layar, kalau dibuka dari tengah menuju samping kanan dan kiri dan kalau ditutup dari samping kanan dan kiri ke tengah. Seperti gorden, tetapi ini dua sisi yang berjalan. Unik! :)
Untuk performer dan MC, sinar kuningnya akan dihadapkan ke mereka.

Pukul 16.15 WIB : Sesi konser I

Opening by MC
Kata sambutan dari Pimpinan Sekolah Musik Swara Moriska
Permainan terompet dari lantai atas ruangan konser ~ Fanfare for the Common Man (Kami sempat kaget. Suaranya kencang. :D)
Swara Moriska Chamber Orchestra (SMCO) ~ Eine Kleine Nachtmusic
Piano empat tangan dari 2 orang anak kecil perempuan yang cantik dengan gaun putih ~ Colours of the Wind
Swara Moriska Youth Orchestra (SMYO) ~ Brandenburg, Humoresque
Solo piano ~ Canon in D (Seorang anak sekitar usia SD/SMP memakai baju bebas tapi sopan, kemeja berkotak-kotak pendek dan celana panjang. Tidak berpakaian layaknya seorang pianist profesional yang khas dengan baju putih/hitam berjas hitam dan bercelana panjang hitam)
Balet anak (Lucu dan imut-imut... :D)
Vokal solo ~ Perahu Kertas
Wind Ensemble ~ Blue Danube, Star Wars Theme, New York-New York
Solo Piano ~ Spring Rain Yiruma (Performernya seorang remaja perempuan memakai baju bebas. Sebelum permainan piano solonya dimulai, membungkukkan badan terlebih dahulu dengan malu-malu. Begitu pula usai permainan piano, membungkukkan badan dengan malu-malu dan bergegas berlari menuju balik layar. Ya ampun.. Kami tertawa. Permainan pianonya bagus tetapi pemalu. Padahal tidak usah malu-malu, beranilah tatap ke depan dengan tersenyum dan penuh percaya diri. Serta bersikap tenang ketika mau berbalik ke balik layar.)
Guitar Ensemble ~ Ashokan Farewell, James Bond (Banyak pemain gitarnya duduk setengah lingkaran, tetapi suara gitarnya kecil. Oh, mungkin setiap gitarnya harus diberikan mike. Di sini tidak diberi mike. :D)
Balet remaja (Sip.. Usia remaja atau dewasa dikatakan tidak terlambat untuk belajar menari balet. Saya juga lumayan bisa menari balet.)

Pukul 17.20 WIB : Istirahat.
Lampu ruangan mulai menyala kembali dengan sinar putih ke semua kalangan.
Pemutaran film dokumenter Sekolah Musik Swara Moriska.
Boleh diam saja di dalam ruangan konser, ngobrol-ngobrol, tetapi tidak boleh makan agar ruangan konser tetap bersih.
Makan di luar ruangan konser.
Ke WC. Sudah ngantri cukup panjang untuk perempuan. :D

Pukul 17.50 WIB : Sesi konser II

Harus sudah masuk kembali ke dalam ruangan konser.
Seperti biasa lampu ruangan kembali hitam kelam dan sinar-sinar kuning menghadap layar penampilan konser.

Opening by MC
Chinese Traditional Music ~ Xian Qi Ni De Gai Tou Lai, Ru Guo Mei You Ni, Kungfu Master (Tampil dengan seragam khas China. Saya suka di Kungfu Master, musiknya hmmm....)
Solo piano ~ On The Medow
Cello Ensemble ~ Medley (Three Spanish Pieces and Pink Panther), Thats What Makes You Beautiful, Banana (Minions). Yang Banana Minions ini yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Tidak tahan ingin tertawa. Lucu... Sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Hehehe...
Vocal solo ~ The Greatest Love of All
Children Ensemble ~ Yamko Rambe Yamko, Tales from The Vienna Woods (Ini penampilan paling favorit bagi saya. Bagaimana tidak, anak-anak kecil yang tampil semua, imut-imut, terutama bagian ensemble pianika yang perempuan dengan gaun putih. Permainan musiknya kompak. Mereka bermain dengan tenang. Two thumbs up!)
Solo piano ~ Dolls Dream
SMYO ~ Es Lilin
Solo piano ~ Frederick Chopin. Kalau tidak salah, judul lagunya “Ballade in G Minor”.
Duet Guzheng ~ Xin Yuan Yang Hu Die Mong (permainan duo kecapi)
SMCO ~ Sigulempong, Spring Season by Antonio Vivaldi
SMCO feat SMYO ~ Viva la Vida (Keren!)

Pembagian bunga

Closing
SMCO feat SMYO and Wind Ensemble ~ Radetzsky March
Para penonton diajak bertepuk tangan
(Sip, kompak! Terlebih conductor tampil dengan sangat baik dengan tongkat conductornya, Mba Puput Keren-anggota MKI lho...)

Foto bersama

Acara berakhir pukul 20.00 WIB.
Dibagikan konsumsi.

Dari keseluruhan penampilan konsernya berjalan baik dan lancar. Ada yang malu-malu ketika tampil bermain solo dan hendak membungkukkan badan. Padahal usianya sudah remaja, bukan anak kecil. Ya, di sinilah anak-anak Sekolah Musik Swara Moriska dapat belajar berani tampil dengan penuh percaya diri. Semoga mereka bisa tampil dengan lebih baik di masa mendatang.